Duka Indonesia

By Yuniar HMS. Islamiyati - Januari 03, 2019

Berita di penghujung tahun kemarin jelas membuat kita, masyarakat Indonesia bersedih. Setelah tsunami dan gempa yang menimpa Sulawesi Tengah tepatnya di Palu dan Donggala pada 28 September 2018 dan memakan korban sekitar 2000an orang, Indonesia kembali diberikan ujian yaitu dengan adanya Tsunami di Banten dan Lampung Selatan pada 22 Desember 2018. Banyak korban jiwa atas kejadian ini, bukan hanya masyarakat biasa bahkan beberapa public figure menjadi korbannya. Kita pun disuguhkan beberapa video amatiran detik-detik bagaimana tsunami memporak porandakan bangunan hotel, rumah warga dan semua fasilitas umum lainnya. Tsunami yang terjadi di Banten diindikasi karena imbas dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Disini gue tidak akan mengomentari berita yang ramai beredar baik itu tentang kecerobohan BMKG apalagi azab-azab yang menyudutkan pihak tertentu. Karena becana datangnya dari Allah, dan bencana merupakan peringatan dan sekali lagi tolong berhenti menjudge hal dengan asumsi menyudutkan suatu kelompok. Ini adalah peringatan untuk kita juga sebagai manusia!

Banyak air mata yang mengalir dari wajah-wajah para korban, begitu juga kita yang menyaksikan hal ini. Air mata mereka adalah kita, kita adalah saudara.
Gue gak pernah membayangkan bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang kita sayangi dalam sewaktu, tak bisa membayangkan segala yang dimiliki hilang begitu saja dalam hitungan detik. Bukan tidak lain karena kuasa Allah SWT.

Sebelumnya, gue sebagai masyarakat mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, lembaga terkait, para komunitas dan seluruh masyarakat yang secara sigap sudah membantu dalam menangani, mengevakuasi dan berdonasi baik untuk Palu, Banten juga Lampung Selatan. Harapan besar, masyarakat korban tsunami bisa bangkit kembali, semangat dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Dan semoga para steakholders terus membantu proses recovery daerah bencana, demi kehidupan sejahtera, kebahagiaan masyarakat dan kelancaran arus ekonomi.

Besar harapan, kita sebagai manusia bisa mengambil hikmah dari sebuah ujian. Meningkatkan kembali keimanan dan ketaqwaan kita. Membangun hubungan baik dengan manusia hablum minan naas, menjaga kelestarian lingkungan karena kita tau beberapa tahun terakhir ini kita banyak mendapat kabar terkait pencemaran lingkungan, penggundulan hutan dalam skala besar. Berhenti menjadi manusia egois, berhenti menjadi badebah yang hanya mementingkan satu kepentingan saja. Semoga pesan ini sampai kepada pembaca semua.

pict source : google.com

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar