FANATISME MEMATIKAN

By Yuniar HMS. Islamiyati - September 24, 2018

Tonight let me argue on my privat blog. Dari sebagian kalian pasti sudah membaca dan melihat headline news tentang meninggalnya salah seorang supporter Persija asal Cengkareng menjelang pertandingan Persija vs Persib. Nama Haringga Sirila menjadi perbincangan masyarakat luas, khususnya bagi mereka penikmat pertandingan bola. Bagaimana tidak, tewasnya Haringga membuat kita semua sebagai manusia waras tentu ikut merasakan kesedihan, pilu dan miris. Haringga meregang nyawa ditengah ratusan atau bahkan ribuan manusia, padahal mereka pun tidak tau siapa kamu, bung. Konyolnya lagi, bagaimana bisa aksi brutal diikuti kalimat-kalimat Allah, laaillaha illahu.. 

Gue dan Ibu yang melihat video aksi pengeroyokan terhadap Haringga benar-benar merasa iba, miris, lemas dan membayangkan bagaimana menjadi orang tua dari Haringga? Tak terbayang. Selamat jalan bung, semoga engkau tenang di alam sana. Semoga tidak ada lagi korban sepertimu, aamiin.

Peristiwa semacam ini bukan terjadi sekali saja. Sebelumnya kita pernah disajikan berita yang sama dengan cara atau kronologi yang berbeda. Supporter adalah pendukung. Adanya supporter membuat semangat para pemain meningkat dan termotivasi. Pertandingan bola tanpa supporter macam sayur tanpa garam, hambar. Lantas bukan berarti bisa menyiksa dan membunuh supporter rival pertandingan dianggap pahlawan? Permainan bola bukan jihad perang, tjuy!

Jujur gue adalah supporter karbitan. Gue mengakui hanya menjadi penikmat semata aja, bahkan menginjakan kaki di Stadion pun belum pernah. Tapi bukan berarti gue buta bola. Pertandingan yang mempertemukan Macan Kemayoran dan Maung Bandung selalu menjadi tontonan panas yang kita tau sejak dulu memang sudah seperti itu, permusuhan antara dua klub supporter seperti sudah diwariskan turun temurun. Dan ini yang buat rame. Kaya lu lihat liga el-classico antara Barcelona dan Real Madrid ramenya ngalahin kumpulan janda di Tanah Abang. Eh

Bicara tentang fanatisme tentunya fanatisme yang sempit adalah fanatisme yang mematikan. Mengedepankan fanatisme terhadap sesuatu yang amat sangat disukai sebagai alasan. Gue bisa bilang seperti ini karena mereka yang fanatik terhadap sesuatu akan mengedepankan egonya, bahkan bisa menjadi sosok psikopat ditengah masyarakat. Fanatisme yang gue bahas disini adalah fanatisme supporter bola, bukan tawuran pelajar, genk motor atau fanatisme agama. Dari kejadian Haringga disitu kita bisa lihat bahwa mereka yang memukuli, menyiksa korban tidak pantas disebut manusia. Ga ada prikemanusiaannya lagi. Namanya manusia punya hati nurani dan akal sehat, kalau sudah begitu apa iya mereka pantas disebut manusia?

Dan peristiwa ini adalah kebiadaban yang menjadi pelajaran untuk kita semua. Untuk supporter, para klub bola, PSSI, Pemerintah, orang tua yaaa intinya semua golongan masyarakat. Agar tidak ada lagi orang tolol semacam ini. Masyarakat harus bersama-sama membangun pola pikir yang baik, kita berada dalam satu wilayah yang sama, Indonesia. Semoga kita tidak lupa dengan nilai-nilai bangsa.

Selanjutnya mari kita saksikan akan ada kelanjutan atau tindakan seperti apa dari pemerintah. Harapan terbesar gue, jangan hentikan liga persepak bolaan Indonesia. Itu bukan solusi!
Menghentikan liga sama halnya menghentikan prestasi seseorang atau kelompok. Akan seperti apa nasib persepak bolaan Indonesia dikancah dunia nantinya?
Hukum seberat-beratnya kepada para pelaku, berikan sanksi kepada supporter bolanya, hal ini memberikan efek jera dan pastinya menjadi pelajaran bagi supporter klub lainnya. Untuk kita, mari lindungi dan ingatkan keluarga serta orang-orang terdekat kita terutama anak-anak untuk tidak mencontoh prilaku tidak kemanusiaan.

Sekali lagi, jangan sampai kejadian tewasnya supporter bola terulang lagi. :)

  • Share:

You Might Also Like

10 komentar

  1. semoga saja otoritas pssi, beranti bertindak tegas terutama pada klub tersebut, karena mau tak mau, suka tidak suka. harus seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga berharap PSSI tidak tebang pilih terhadap club-club tertentu, doa terbaik untuk persepakbolaan tanah air, aamiin.

      Hapus
  2. Judulnya ngeri banget hehe..

    Intinya sepak bola itu hiburan bukan perseteruan...
    mudah2an aja kedepanya bisa lebih baik lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judul ini pernah dipakai Mbak Nana, walaupun saya sendiri baru tau setelah mempostingnya. Tapi mematikan adalah kata yang saya dengar ketika mendengarkan radio elshinta hehe.

      aamiin, dan tidak ada supporter seperti kemarin.

      Hapus
  3. Inilah kenapa gue paling males sama orang fanatik (pada apa pun). Karena porsi yang wajar adalah porsi menyukai atau mengagumi, nggak harus sampai jadi fanatik.

    Setuju sama postingan ini. Lanjutkan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitu juga saya, entah kenapa tak pernah suka dengan orang yang menyukai sesuatu yang berlebihan dan ga bisa dibaca oleh nalar kita yang normal. Terima kasih mas Gigip

      Hapus
  4. bentar... saya tidak pernah tahu kalo di tanah abang rame dengan janda....


    tiap tahun selalu saja berulang, mau sebagus apapun solusi yg diberikan tetap saja efek negatifnya lebih besar. dulu pemeriksaan senjata sebelum masuk,banayk yg terintimidasi karena kebanyakan nggak bawa tapi diperiksa bagai tersangak. lalu ini kejadiannya di luar, tanpa senjata pula. lalu solusinya apa? menghukum pelaku dengan berat pernah jadi solusi, tapi keluarga/teman jadi dendam, perkelahian berlanjut di kemudian hari. semoga kesadaran dan kepedulian masing2 semakin tinggi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dimana seharusnya sepak bola menjadi sarana pemersatu bangsa tapi menjadi pemecah menjadi kelompok-kelompok yang saling menaruh dendam atas dasar solidaritas.

      Ada kok, kalau ngga percaya datangi aja gang metro samping Masjid Tanah Abang :D

      Hapus
  5. sedih juga gue kalau keinget kejadian yg menewaskan suporter bola kemarin :((
    kok yaa ga ada perikemanusiannya atau paling ga, rasa miris menganiaya seseorang.. moga aja ga ada ejadian serupa besok2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Itulah kenapa fanatisme bisa dibilang ga baik.

      Hapus