Rapuh

By Yuniar HMS. Islamiyati - Agustus 12, 2018

Untuk seseorang yang pernah ada dalam cerita indahku, mungkin saat ini pun masih. Terima kasih atas segala kebaikan dan jerih payahmu untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku. Kamu berhasil, tapi kita tidak bisa bersama. Hal baru yang aku rasakan adalah perpisahan tanpa kebencian. Perpisahan tanpa pengkhianatan. Semua diluar dari rencana kita, ku gantungkan semuanya kepada Tuhan. Tuhan memberi jawaban terbaik.

Aku tuliskan semuanya disini, tentang rasa cinta dan kasih sayang yang terus bersemayam dalam hatiku. Ku bisikan rinduku disetiap keheningan malam, bagaimana membayangkan tawamu melukiskan garis-garis tipis di wajahku. Bagaimana segelas kopi pahit, nampak nikmat walau ku tau itu bukan rasa yang kusuka. Bagaimana pikiran konyol kita menjadi bumbu dalam setiap perbincangan, dan bagaimana kamu tetap berusaha ada disampingku. Selalu menghadirkan apapun yang aku minta. Menghabiskan waktu dalam pertemuan yang masih bisa ku hitung dengan jari. Semua nampak manis, tapi berujung hambar. 

Malamku berubah, menjadi sepi dan nampak semua samar. Membayangkan bagaimana keputusan ini membuatmu jatuh, membuatku rapuh. Tapi semakin kujalani, justru bukan menjadi hubungan yang baik. Aku tidak tau apakah keputusan ini baik atau buruk? Tangisku semakin pecah bila terus ku tulis semua persaanku disini, aku semakin tersiksa bila terus mengingatmu. Semoga kamu bahagia, begitu juga aku.

  • Share:

You Might Also Like

6 komentar

  1. "Semua nampak manis tapi berujung pahit. Membuatmu jatuh, membuatku rapuh."

    Ini sedih sih. Tapi bacanya sambil senyum-senyum karena tulisannya bagus. Dan ngena. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya senyum-senyum sendiri pas tau dikomen sama Mas Gigip hehe

      Hapus
  2. Sedih pasti berakhir kok kak, jika ada penggantinya misal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih pasti berakhir kok, life must go on.

      Hapus