DRAMA PERSKRIPSIAN

By Yuniar HMS. Islamiyati - Agustus 26, 2018

Bagi sebagian orang skripsi adalah momok yang menakutkan, begitu pun menurut gue. Skripsi adalah syarat seorang mahasiswa untuk menyelesaikan studinya dan meraih gelar akademis dibelakang namanya.

Momen-momen menggarap skripsi adalah momen yang bisa dibilang sulit dilupakan, sama kaya momen bareng si dia. Terlepas apakah skripsi itu hasil buatan sendiri atau hasil perjokian yang gue rasa sudah menjadi rahasia umum. Pemilihan judul adalah ukuran apakah kita mampu menyelesaikan dan mempertanggungjawabkan skripsi tersebut. 
Ada begitu banyak kendala yang dihadapi setiap mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi. Mendapat dosen pembimbing yang tidak sefrekuensi, kendala dari dinas atau lokasi penelitian yang kita pilih, dan kendala yang berasal dari faktor internal diri kita sendiri. Banyak pengalaman yang dialami setiap mahasiswa dalam penyusunan skripsi, seperti data yang hilang padahal sudah masuk bab 4, tiba-tiba laptop mati, dosen pembimbing yang susah diajak bimbingan atau banyak maunya, responden penelitian yang malas mengisi angket penelitian, bahkan faktor keuangan yang sudah mengering akibat banyak pengeluaran baik biaya print, fotocopy dll. Hell! 

Dan hal yang harus diperhatikan adalah menjaga mood agar selalu dalam keadan stabil atau semangat. Syukur-syukur ada yang menyemangati. Dan gak heran ada banyak teman gue memilih fokus untuk menyelesaikan skripsi dan mengabaikan si doi yang katanya banyak menuntut. Tapi benar banget, suasana hati itu penting. Selanjutnya 'teman', lu harus cari teman yang benar-benar satu visi. Artinya teman yang siap diajak bertukar pikiran, teman yang siap membantu lu dalam menyelesaikan skripsi. Pasti diantara teman satu kelas ada saja teman yang egois, artinya dia lebih nyaman menyelesaikan skripsinya sendiri atau tidak mau membantu temannya. Dan biasanya teman dengan sikap seperti ini lebih banyak menjadi bahan omongan diantara teman yang lainnya, thats true story hihi..
Gue bersyukur banget punya teman-teman yang mau diajak berjuang bersama, lu gak tau cara pengerjaan statistik tinggal belajar bareng sama teman lu yang ngerti, lu gak faham cara menyusun A, B dan C ya lu tinggal tanya teman, dan hal yang gak lu pahami lainnya.

Hari-hari dimana malam menjadi jam-jam produktif kami, rasanya malam menjadi lebih cepat berlalu. Dan rasa kantuk menjadi teman yang hampir setiap waktu hadir. Gak heran, kalau gue lebih memanfaat waktu sebisa mungkin ditengah-tengah kesibukan gue yang cukup padat, seperti saat menumpangi bus ke kampus atau bus pulang dari kampus, gue gunakan waktu itu untuk tidur, bahkan gue pernah tidur di bus dalam keadaan berdiri dengan satu tangan memegang handel grip dikerumunan penumpang yang ikut berdesak-desakan. Bisa dibayangkan? Kalau bukan karena rasa capek yang luar biasa, gue rasa gak akan melakukan hal ini.

Selanjutnya hal yang cukup berkesan lainnya adalah momen dimana gue dikejar-kejar deadline sidang, saat itu persiapan untuk sidang gelombang pertama. Buat gue gelombang itu hanya kapasitas, bukan berarti kualitas yang artinya mereka yang bisa masuk gelombang pertama adalah mereka yang hebat, bukan, bukan itu. Nah, saat itu dosen pembimbing gue minta gue menyelesaikan proposal hari itu juga, hari yang sudah ditentukan karena dosen gue hendak pergi umroh, gak mungkin kan gue nyamperin dosen pembimbing gue ke Arab :D
Dan seketika gue menjadi orang yang khalaf, cepat marah kalau ada yang ganggu gue lagi ngerjain skripsi, contohnya kaya ponakan-ponakan gue yang masih kecil. Haha maafkan tantemu ini, dek. Endingnya, gue pun mampu menyelesaikan proposal dan mendapat tanda tangan beliau.

Gue yakin banget siapapun yang pernah menyelesaikan studi akhir, baik universitas atau perguruan tinggi, pasti punya banyak cerita tentang skripsi atau tugas akhirnya dan diantara mereka memiliki cerita yang berbeda-beda. Mungkin ada yang ceritanya sama seperti gue, atau lebih anti-mainstream dari gue? Please share di kolom komentar, HA!

Setelah penggarapan skripsi, hal yang paling bikin deg-deg-an yaitu momen sidang. Setiap kampus memiliki standart tersendiri dalam menguji kemampuan mahasiswanya. Artinya setiap kampus memiliki perbedaan peraturan. Sidang disini adalah kegiatan seorang mahasiswa diuji pengetahuannya selama duduk dibangku perkuliahan serta mengukur sejauh apa kematangan seorang mahasiswa dalam menguasai hasil penelitian yang sudah ia teliti. Maka dari itu, ada begitu banyak tahap sidang yang harus dihadapi seorang mahasiswa.

Di Kampus gue sendiri ada empat tahap sidang yang harus kami hadapi. Pertama adalah sidang proposal skripsi, sidang komprehensif, sidang kelembagaan dan sidang akhir yaitu sidang skripsi. Di semester pertengahan gue dan teman-teman membayangkan begitu beratnya menghadapi skripsi dan sidang-sidang. Tapi setelah dijalani, yaaa tidak setakut diawal yang kami bayangkan. Kami menikmati setiap prosesnya, senang, susah, pusing, dan hal lainnya. Macam perjalanan memacu adrenalin, oke jadi judulnya My Skripsi My Adventure. lol

Dari sini gue belajar banyak tentang kesabaran, pemahaman, keberanian dan bagaimana melepaskan rasa malas dari diri sendiri. Pengalaman penyelesaikan skripsi memberikan gue apresiasi terhadap diri gue sendiri. Kamu akan tau siapa dirimu sendiri setelah bisa menghadapi apa yang kamu takuti. It's you. -yhms. 

  • Share:

You Might Also Like

10 komentar

  1. jadi, mbaknya sudah lulus sekarang?

    Dari ribetnya skripski itu malah ngejadiin kita ngehargain sebuah proses perjuangan. Misalnya, kayak gue. Setelah kerja, terus ngeliat skripsi terpajang di lemari kamar, rasanya kayak bangga banget gitu.

    Btw masukan aja, satu paragrafnya jangan terlalu panjang. Jadi berat banget bacanya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah, bahkan kalau mas mau akupun sudah siap dilamar. lol

      Perjuangan sekaligus menjadi perjalanan yang manis buat saya, hehe.

      Iya, terima kasih guruku.

      Hapus
  2. Selamat yah udah jadi sarjana. Kesulitan yang dihadapi justru akan jadi kenangan indah lo.

    BalasHapus
  3. Gue bahagia bacanya.
    Karena di tempat gue sekarang, ga perlu ada kisah sedih tentang skripsi. Karena kampus gue ga ada kewajiban nulis skripsi sih.

    Ehe

    Gue baru tau, ada yg bisa tidur sambil berdiri gitu. *toss
    Pas di pondok, soalnya gue sering juga sih. Tanpa pegangan malah. Lebih jago gue.

    Yg kyak gni, bisa dibanggain ga si?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kewajiban nulis kaligrafi ya? Hehe

      *toss
      Perlu dong. Hal yang jarang orang lakukan tapi kita bisa lakukan perlu diapresiasi minimal sama diri sendiri wkwk
      asal hal positif dan ga merugikan orang lain :D

      Hapus
  4. sekripsi destinasi petualangan yang asyik, endingnya wisuda yang bikin bahagia :)

    BalasHapus
  5. Selamat menempuh sulitnya penuh perjuangan mengerjakan skripsi, semoga lancar semuanya dan cepet lulus yaa kak! Semangattt 45 biar cepet suksesss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap! Aamiin, dan alhamdulillahnya sudah lulus kak :) *sungkem

      Hapus