Celotehan

Membuka Bimbingan Belajar dan Belajar Menjadi Tenaga Pendidik

06.51

Jujur, gue salut banget sama anak muda yang jauh lebih dari gue. Mereka keren dan berani. Pernah dengar kegiatan mengajar para sukarelawan ke pelosok negeri? Gue rasa, itu adalah pengalaman mahal.
Kalau pun gue ditawari, gue harus banyak mempertimbangkannya. Termasuk tentang keluarga gue.

Kali ini gue akan berbagi cerita, bagaimana asiknya menghabiskan waktu bersama anak-anak.
Gue direkrut jadi tenaga pengajar di sebuah bimbingan belajar bersama Kakak pertama gue sendiri, Miss Ella. Sebenarnya gini sih, gara-gara kurikulum 2013 kemarin beberapa materi dan metode belajar di setiap sekolah diubah, ada untungnya ada tidaknya juga. Dan waktu itu kita udah banyak cerita, berkeinginan punya tempat bimble. Sebelumnya gue udah sering ngebimblein anak dari pintu ke pintu.
Akhirnya ide itu muncul, keluarga besar gue punya tempat sekitar dua ruangan di area rumah bekas alm. Kakek, yang udah gak diisi. Dan gue beserta kakak gue meluncur untuk membersihkan tempat tersebut. Kotor, berdebu. Sekarang sudah bersih.

Banyak PR yang harus dibenahi saat itu, sedangkan modal hanya dari uang tabungan gue dan kakak gue. Tidak ada campur tangan pihak lain.
Tapi semuanya terbalaskan melihat antusiasme anak-anak SD yang banyak berdatangan, diluar apa yang gue kira. Semoga tidak terjadi proses alam ya, hehe.
Sempet kewalahan banget membagi waktu, kakak gue guru dan gue masih kuliah. At least, gue harus merelakan waktu gue untuk mereka. Dan ternyata menjadi profesional itu bukan hal mudah. Ini proses, ini awal, ini bagian dari perubahan.

Sebelumnya, gue berterima kasih banget sama LPBA. Yang dulu pernah ngasih kesempatan buat gue belajar disana secara gratis, dan gue manfaatkan itu dari SD sampai SMA. Gue masih menyimpan kontak Ka Asih, tapi kemarin gue lihat bangunan LPBA udah gak ada. Katanya pindah ke tempat lain, yang belum gue tau dimananya.

Lanjut, jadi setiap libur atau gak ada jadwal ngampus gue menghabiskan waktu di camp (bimblean). Belum ada meja, sementara anak-anak belajar di lantai. Tapi mereka senang, bahkan dari mereka gue banyak belajar hal kecil yang kadang gak pernah gue pikirkan.
Mereka benar-benar polos, dan mereka punya banyak mimpi besar yang sampe gue yang denger aja kagum.

Sudah satu bulan bimbingan belajar gue ini berjalan, gue memegang kelas 6, 5 dan 3. Semakin mengenal mereka, gue jadi paham karakteristik anak itu seperti apa. Dan usia seperti mereka ini adalah usia proses pembentukan karakter. Oleh karena itu, gue pakai metode pendekatan. Karena gue tau, setiap anak memiliki perbedaan satu sama lain dalam belajar.

Kalau lagi sama mereka, gue seperti merubah diri gue. Bukan gue yang ada di kampus atau di rumah, yang suka ketawa ngakak atau masih suka nongkrong-nongkrong sama temen-temen. Hehe.. karakternya beda deh.
Gue selalu bilang ke mereka, bahwa gue ini adalah teman. Gue gak mau dipanggil Ibu, akhirnya mereka panggil gue dengan sebutan Ka, Ka Yuniar.

Gue selalu meyakini diri gue sendiri untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada siapapun, keluarga, orang terdekat, teman, partner bisnis bahkan ke mereka.
Gue seneng buat orang lain seneng, makanya gue ajarkan mereka buat jujur. Ketika gue tanya apakah mereka enjoy dengan kegiatan ini, mereka selalu bisa jujur. Sampe akhirnya gue mendapat masukan dari sebagian mereka. Karena dunia gue bisa dibilang beda, emm ya mereka masih anak-anak dan gue mantan anak-anak hehe.

Oke, semoga suka ya sama cerita gue kali ini.


Catatan

Ramadhan 2017

01.07

Menjadi catatan luar biasa buat gue. Ramadhan kali ini dikemas beda dari biasanya. Seperti merasakan minuman tersegar dan terenak melebihi rasa segelas susu, yang selalu dirindukan, lagi dan lagi. Bagaimana dengan ramadhan kalian tahun ini?

Disela-sela libur panjang, banyak hal bermanfaat yang gue lakukan selama ramadhan. Selain mencukupi kebutuhan rohani dan meningkatkan kedekatan dengan Allah, gue belajar banyak tentang hidup dan kesabaran. Diluar dari itu, waktu gue yang lainnya gue isi dengan hal-hal yang gue sukai seperti membuat kerajinan tangan, membaca buku, memasak, dan mencoba hal-hal baru seperti belajar merancang pakaian.
Gue mengurangi aktifitas gue di media sosial, gue mencoba menikmati keluar dari zona nyaman gue. Gue juga hanya menerima beberapa ajakan bukber saja, gue mengisi undangan di beberapa taman belajar, bermain bersama anak-anak dan beberapa kegiatan sosial lainnya. Gue bersyukur ditemui dengan orang-orang yang membuat gue menjadi lebih mengerti bahwa hidup bukan hanya perkara tentang diri sendiri.

Semoga kita selalu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, dan semoga umur membawa kita bertemu Ramadhan berikutnya.

Catatan

Buku #1

00.44

Prosesnya panjang, memakan waktu lama dan sudah bisa ditebak isinya tentang sebuah perjalanan. Tentang seorang perempuan dan lingkungannya. Masih gak pede jika mereka membacanya, malu dan sejumlah perasaan lainnya ada disitu. Sebenarnya semua dimulai dari tahun 2010, dan siapa sangka Juni menjadi bulan keberanian dan bulan yang beda. Just yunaii -